Pengalaman Bekerja di Jogja yang UMRnya Segitu-Gitu Aja Tapi Disuruh Bersyukur

Image by Nattanan
Belum lama ini Pemerintah Provinsi DIY menyepakati kenaikan upah minimum provinsi (UMP) dan upah minimum kabupaten/kota (UMK) yang akan diberlakukan pada tahun 2020 mendatang. UMP DIY tahun 2020 ditetapkan sebesar Rp1.704.608,25 atau naik 8,51% dari tahun 2019. Sementara untuk UMK tahun 2020 masing-masing adalah Gunung Kidul Rp1.705.000 ; Kulon Progo Rp1.750.500 ; Bantul Rp1.790.500 ; Sleman Rp1.846.000 ; dan Kota Yogyakarta Rp2.004.000.

Informasi mengenai kenaikan upah seharusnya bisa menjadi kabar bahagia bagi kaum buruh dan pekerja. Lagian, siapa sih yang tak ingin jika gajinya juga ikutan naik? Tapi menurut saya, kenaikan ini tetap saja tidak akan menghilangkan kesenjangan sosial dan ekonomi yang merajalela di Jogja.

Di tengah biaya hidup yang kian merangkak naik, saya merasa standar UMP dan UMK di DIY (mari kita sebut Jogja saja) masih terasa belum layak. Iya sih naik, tapi emangnya cukup memenuhi 3 kebutuhan pokok alias sandang, pangan, dan papan?

Saat saya bekerja di Jakarta, banyak teman saya yang sering bilang, “Hidup di Jogja enak ya? Makanannya murah-murah,”. Dan biasanya sih saya timpali saja dengan “Enggak kok, sama aja kaya Jakarta. Harga makanannya juga 11:12 kali. Kecuali kalau tinggalnya di suatu desa pelosok di ujung Bantul, Gunungkidul atau Kulonprogo,” tentunya dengan nada setengah bercanda. Lantas, teman saya langsung tersenyum kecut sebab angan-angan tentang keromantisan Jogja seketika sirna dari benaknya.

Kadang-kadang saya kesal sekali dengan orang-orang yang meromantisasi Jogja. Katanya, Jogja itu kota yang nyaman untuk ditinggali. Katanya, makanan di Jogja itu enak-enak dan serba murah. Katanya, biaya hidup di Jogja itu enggak setinggi Jakarta. Aduh, mohon maaf ya saudara-saudaraku. Saya yang dari mbrojol sampai mengalami quarter life of crisis di Jogja merasakan banget kalau Jogja tuh udah berubah 180 derajat!

Baca juga: Pemuda Seperti Apa yang Mengucap Sumpah Oktober? 

Saya ingat banget, dulu belum ada hotel dan apartemen wow di area Jakal kilometer 5. Gunung Merapi juga masih kelihatan dari situ. Masih adem lah ngeliatnya. Sekarang, area Jakal sepertinya sudah menjelma menjadi ajang jualan iklan melalui baliho. Setiap kali melintasi Jakal, saya merasa iklan-iklan itu seolah saling berdesakan dan berebutan agar dapat dilihat oleh siapapun yang melintasi jalanan.

Soal harga makanan? Mon maap ya saudara-saudaraku, saya berani menjamin bahwa harga makanan di Jogja relatif sama kok dengan kota-kota besar lainnya. Coba wis kamu makan ayam geprek atau nasi ayam krispi ala ala pasti bakal dipatok harga minimal Rp 10ribu. Lantas, apa bedanya dengan makan nasi ayam warteg di ibu kota?

Saya memang tidak menyangkal bahwa masih ada beberapa tempat makan yang mematok harga murah untuk setiap menunya. Di depan kantor saya yang sekarang, ada ibu-ibu yang berjualan nasi rames. Waktu itu, saya membeli seporsi nasi dengan 2 macam sayur dan 3 tempe mendoan. Semuanya hanya dihargai sebesar Rp 5ribu saja. Iya, Rp 5ribu doang. Dan yang lebih mencengangkan, ibunya tidak segan-segan memberikan porsi nasi yang cukup untuk 2 orang!

Murah banget kan? Iya, memang murah. Sebagai pecinta harga murah dan diskonan, seharusnya saya senang bisa makan kenyang tapi dompet tetap aman. Namun sebaliknya, saya justru merasa sedih, terharu, dan perihatin dengan ibunya. Ibunya dapat untung nggak ya? Atau beliau hanya sekadar berjualan untuk mengikuti passion seperti yang sering digadang-gadang oleh kaum millenial? Atau mungkin, ibunya sengaja mematok harga murah supaya dagangannya lebih laku?

Padahal, menurut saya, harga barang pokok relatif sama lho. Coba saja telusuri pasar-pasar, harga cabai dan ayam sama aja kan? Seharusnya harga makanan juga bisa relatif sama dong? Biaya hidup (di luar gaya hidup ya) juga pasti rata-ratanya sama kan? Tapi kenapa hanya Jogja saja yang memiliki UMP terendah se-Indonesia? Apa sih yang dipikirkan Sultan berikut dengan jajaran Pemdanya?

Lain pedagang, lain pula pekerja. Sebagai pekerja kreatif, saya merasakan kompetisi kerja di Jogja ini lumayan susah. Selain karena SDMnya yang melimpah, kebutuhan perusahaan kadang-kadang kompleks banget. Saking kompleksnya sampai nggak ngerti deh harus gimana.

Dulu saat masih kuliah, saya pernah bekerja part time sebagai tim kreatif di sebuah media lokal di Jogja. Niatnya sih emang mau cari uang jajan lebih sekaligus pengalaman biar nggak kaget-kaget banget sama dunia kerja. Sebulan, dua bulan, tiga bulan saya masih fine­-fine aja dengan jobdesc-nya. Namun, setelah 2 tahun bekerja di sana, kok jadi merasa dieksploitasi ya?

Baca juga: Wisuda Kampus Penyumbang Kerusakan Lingkungan 

Setahu saya, beban dan jam kerja pekerja part time itu seharusnya setengah dari beban dan jam kerja pekerja full time kan? Namun yang saya rasakan, kerjaan saya nggak ada bedanya tuh dengan pekerja full time. Apalagi saya tuh sering mengerjakan hal lain di luar jobdesc, waktu libur dan cuti sering diganggu pekerjaan padahal jelas-jelas jam kerja adalah Senin-Jumat, eh gajinya ya gitu-gitu aja. UMK Gunungkidul aja nggak nyampe beb~

Yang lebih menyedihkan lagi, saya hampir nggak pernah dapat apresiasi meskipun saya berhasil menyelesaikan target pekerjaan dengan baik. Jangankan apresiasi beb, ucapan terima kasih aja jarang terdengar di telinga.

Seorang teman pernah cerita ke saya kalau gajinya sebagai admin media sosial di salah satu usaha kreatif juga nggak nyampe UMK Sleman. Padahal status dia adalah pekerja full time lho! Malahan ketika harus bekerja di luar dan di saat akhir pekan hanya karena kebutuhan konten, dia juga nggak dapat hari libur pengganti ataupun uang lembur. Kenyataan seperti ini sering banget saya dengar dari orang-orang yang kebetulan pernah bekerja bareng dengan saya. Sebegitu susahnya kah kita mengapreasiasi kinerja orang lain?

Sebalnya, ketika saya mengeluhkan soal gaji dan insentif lainnya, ada beberapa orang yang menganggap saya tidak bersyukur. “Mbok ya nrimo, disyukuri, kabeh wong duwe rezekine dhewe-dhewe,”. Atau yang lebih ekstrim lagi, “Nek ora gelem duwe gaji cilik, yo rasah kerja ning Jogja. Lungo wae seko Jogja. Jogja ki dudu kanggo wong sing ora bisa nrimo ing pandum”. Owalah mas mbak bapak ibu pakde bulik, jelas-jelas di depan mata ada ketikakadilan, ada kesenjangan, dan ada upaya eksploitasi masa didiamkan dan diterima aja? Lha iki bangsamu dhewe sing njajah lho, dudu londo opo maneh aseng!

Saya pikir, romantisasi di Jogja ini sudah sangat keterlaluan bahkan overdosis. Tidak ada romantis-romantisnya jika di depan matamu ada ketidakadilan, kesenjangan bahkan relasi kuasa yang timpang. Perhitungan upah dan gaji seharusnya tidak hanya berdasarkan “biaya hidup” yang katanya murah, melainkan juga harus memperhitungkan aspek-aspek lain. Sebab, di setiap usaha, tenaga dan pikiran ada imbalan yang jauh lebih pantas dan layak untuk diterima.

Floriberta Novia D S
Presenter Equality by Pijak Podcast

Komentar



Ikuti @PijakID