Tulisan yang Kami Cari

Pada mulanya Pijak ID dibentuk atas dasar semangat berbagi ilmu yang didapatkan di kuliah. Sepuluh anak muda yang tergabung dalam grup chat kelompok belajar merasa perlu menuangkan ide-idenya secara utuh dan mudah dipahami oleh masyarakat luas. Sepuluh anak muda ini seluruhnya berlatar pendidikan Teknik Sipil dan Lingkungan. Maka naskah-naskah yang muncul di Pijak ID menggarap tema infrastruktur, tata ruang, dan lingkungan yang berkeadilan.

Dalam perkembangannya, kami sadar Pijak ID tidak bisa hanya diisi oleh orang yang cuma bermodal teori dalam memandang fenomena lalu menuliskannya, agar tak terjebak dalam suasana “serba tahu apapun”. Kami yakin, pengalaman pengguna amat berharga. Pengalaman tiap orang unik. Setiap manusia bersentuhan dengan infrastruktur di dalam tata ruang lingkungannya masing-masing. Maka setiap orang berhak bercerita tentang pengalamannya menggunakan ruang-ruang publik dan menyampaikan usulannya tentang bagaimana mewujudkan fasilitas publik yang adil bagi semua.

Anda mungkin adalah warga biasa di suatu kota yang sedang berkembang. Anda tiap hari menyalakan sepeda motor untuk bersiap-siap berjuang bersama lautan kendaraan di jalan menuju tempat Anda bekerja. Anda bisa menggunakan pengalaman sehari-hari itu sebagai pembuka tulisan. Memang sebuah kisah yang amat sederhana. Tak spesial. Hampir semua orang mengalaminya. Akan menjadi cerita yang spesial apabila Anda bisa membeberkan masalah yang lebih luas melalui kisah sederhana ini. Mungkin Anda mulai sadar bahwa tak ada perencanaan transportasi yang andal dan berkelanjutan. Kota Anda terasa autopilot.

Membuka pintu bagi semua orang untuk menulis di Pijak ID berarti kami siap menerima beragam sudut pandang. Infrastruktur, tata ruang, dan lingkungan di dalam rumah Pijak ID tidak lagi hanya dibahas dari perspektif ilmu-ilmu teknik. Dan memang seharusnya begitu. Sebab tema Pijak ID sungguhlah savana yang amat terbuka. Meskipun tulisan Anda memakai sudut pandang ilmu ekonomi, politik, lingkungan, kesehatan, kebudayaan, bahkan hanya memakai perasaan sekalipun, tetap kami terima. Dengan keberagaman cara pandang inilah, harapannya, kebajikan dalam menilai fenomena infrastruktur, tata ruang, dan lingkungan dapat digapai.

Rusdi Mathari suatu kali pernah bikin laporan naratif yang berjudul Kereta Sudah Bukan untuk Kami. Ia berkisah tentang Kereta Rel Listrik (KRL) di Jakarta khususnya jalur Bogor-Manggarai. Namun, ia tak memfokuskan ceritanya pada seberapa banyak jumlah perjalanan tiap hari, bagaimana fasilitas stasiunnya, apakah tikungannya bagus atau tidak. Justru Cak Rusdi bercerita tentang para pedagang yang tak bisa lagi mengakses kereta. Misalnya, seorang ibu asal Bogor yang sehari-hari menjual pisang ke Depok yang tak lagi bisa menggunakan fasilitas kereta karena barang dagangannya tidak boleh ikut serta. Si ibu akhirnya mesti mencari moda lain yang mau mengangkut dirinya beserta pisang-pisangnya.

Cak Rusdi berkisah tentang sarana transportasi tapi tak memakai amunisi ilmu-ilmu teknik. Tulisan semacam ini juga kami tampung. Tapi tentu saja naskah analisis teknis juga kami wadahi. Kesimpulannya, tulisan yang punya perspektif yang kami cari.

Sila dengan senang hati kirim tulisan ke [email protected]

Salam berkeadilan.

Redaksi Pijak ID

Komentar



Ikuti @PijakID