Mengapa Perlu Menyapu Sampah (Politik) Dari Depan Ke Belakang?

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto menjalankan nasehat sedulur etnis Tionghoa soal menyapu halaman rumah di hari Tahun Baru Imlek 2572 pada 12 Februari 2021. Jangan menyapu halaman dari belakang ke depan, tapi dari depan ke belakang. Termasuk menanak nasi sendiri, dilakukan oleh Hasto Kristiyanto. Ini dilakukan atas nasehat tokoh Tionghoa yang dikenal baik oleh Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan.

Langkah budaya, yang dijalankan oleh Sekretaria Jenderal  PDI Perjuangan ini menarik untuk disimak. Bisa saja menjadi multi tafsir bagi beberapa pihak untuk menggoreng aneka isu politik yang menghangat.

Nah, anggap saja ini tafsir mana suka dari aktivitas budaya yang dijalankan oleh Hasto Kristiyanto. Kira-kira pesan apa yang bisa ditangkap dari kegiatan mandiri yang dilakukan oleh pemimpin partai pemenang pemilu di tanah air ini.

Secara jelas, Hasto Kristiyanto sudah menjelaskan sebenarnya apa yang dikerjakan. Hal itu diceritakan kala menyampaikan ucapan selamat tahun baru Imlek kepada etnis Tionghoa secara khusus di dalam perayaan Imlek 2572 di Jakarta bersama jajaran DPP PDI Perjuangan.

Bagi yang mengenal pribadi Hasto Kristiyanto, laku budaya selama ini menjadi alat komunikasi pesan yang dipilih oleh Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan itu. Secara rutin, selalu menggelar wayang kulit kala memperingati momen penting.

Sebagai orang Jawa,  pilihan gelaran wayang kulit memang bisa menjadi peristiwa budaya yang pas untuk mengirimkan pesan kepada khalayak. Apalagi, secara jumlah, suku Jawa atau mereka yang bersentuhan dengan kebudayaan Jawa jumlahnya cukup besar. Bagi pemimpin politik di Indonesia,  dominasi budaya harus dipahami dan dikelola agar ada harmoni.

Pesan politik, pesan budaya disisipkan dalam lakon yang dibawakan oleh dalang. Bintang tamu yang dihadirkan atau momen limbukan jadi ajang menegaskan pesan kepada khalayak.

Teladan kepemimpinan, menegaskan akan lahirnya kepemimpinan baru, pentingnya hidup rukun, pentingnya gotong royong dan saling bantu sesama hingga alasan kenapa harus hidup damai dalam bingkai NKRI dihadirkan dalam aneka lakon,  juga tembang yang tampil.

*****

Momen pergantian tahun, adalah momen peristiwa penanda waktu yang memiliki makna khusus bagi sebagian orang. Tiap suku bangsa memiliki ekspresi budaya dalam memperingati momen istimewa.

Etnis Tionghoa di tanah air, begitu juga. Mengalami pasang surut keberadaan,  juga kesulitan posisi dalam masyarakat di tiap zaman dan masa. Mari kembali membuka sejarah keberadaan dan peran etnis Tionghoa dari masa ke masa. Apa saja peran penting mereka sejak zaman kerajaan hingga masa paska kemerdekaan Republik Indonesia.

Hubungan pasang surut, dalam sejarah keberadaan etnis Tionghoa telah melahirkan beragam luka sejarah dan residu politik yang perlu dibersihkan,  diobati hingga sembuh.

Presiden Soekarno,  Proklamator RI,  Soeharto, BJ Habibie, punya ikatan sejarah kebangsaan bersama etnis Tionghoa.   Presiden Abdurahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri paska reformasi memiliki peran dalam proses sejarah, menempatkan persatuan, kebangsaan, toleransi, menghargai kebhinnekaan dan mengelola isu SARA dalam upaya merangkul etnis Tionghoa dalam bingkai NKRI. Begitu juga Susilo Bambang Yudhoyono hingga Joko Widodo.

Memberikan ruang untuk bertumbuhnya ikatan kebangsaan dan kemanusiaan sebagai perekat  persatuan Indonesia, penting selaku disuarakan.

Sejarah kebangsaan, ke-Indonesiaan memang diwarnai masa kelam.  Fase kelam, sudah dilalui dan bangsa ini tengah berproses maju mewujudkan kesejahteraan bersama.

Semua etnis, yang ada di tanah air tentu memiliki cita-cita yang sama sebagai bagian Indonesia. Termasuk etnis Tionghoa, berhak untuk memiliki ekspresi budaya yang melekat.

******

Memasuki tahun yang baru, jelas butuh optimisme sebagai modal bekerja. Semua tentu wajar bila bersuka ria dalam memaknai pergantian waktu, pergantian tahun.  Islam memiliki ekspresi budaya khusus kala menandai peringatan pergantian tahun setiap 1 Muharam.  Ada rasa syukur, ada harapan dan cita-cita untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru.

Di dalam masyarakat Jawa yang beragama Islam, ada kenduri, ada tumpeng,  ada slametan, berdoa bersama agar mendapatkan perlindungan dan keselamatan menapaki tahun baru.

Ada akulturasi budaya, kala Islam berpadu dengan budaya Jawa, budaya Mataraman. Begitu pula dengan ekspresi budaya China, etnis Tionghoa ada rangkaian perayaan juga ritual yang secara khusus dijalankan, berkirim doa untuk para leluhur, salah satunya yang dijalankan kala sembahyangan di waktu pergantian tahun di kelenteng.

Ada kue keranjang, yang dibuat sebagai suguhan. Ada lilin yang dinyalakan, burung-burung yang dilepasliarkan kembali dan aneka ekspresi budaya barongsay, liong digelar menambah semaraknya peringatan.

Itu dalam kondisi normal semua dijalankan. Hanya karena dalam situasi pandemi, beragam ekspresi budaya jelas dibatasi. Hadirnya perayaan dengan perayaan khusus pun harus dijalankam dengan taat protokol kesehatan ketat.

Pandemi masih ada, dan upaya memutus mata rantai penularan harus dikerjakan. Langkah pencegahan merebaknya penyakit menular butuh dilakukan secara bersama-sama.

Maka rasanya sangat relevan pesan kemandirian yang dicontohkan oleh Hasto Kristiyanto  dalam perayaan tahun baru Imlek 2572 bersama pengurus DPP PDI Perjuangan di Jakarta.

Jika dalam bahasa simbolik, bisa saja ada tafsir mana suka dalam kehidupan berpolitik masa kini tiap partai politik memiliki problema dan dinamika organisasi. PDI Perjuangan demikian juga. Nah, sebagai pemimpin parpol pemenang pemilu ingin berkabar pesan soal pilihan dan langgam dalam kelola kepemimpinan.

Kerjakan sendiri,  kebaikan dengan penuh kesadaran. Bersihkan kotoran, jangan dibuang di depan rumah, kelola dan kumpulkan di belakang rumah. Tak perlu semua residu, sampah dikirimkan ke TPA. Kalau kita sendiri mampu kelola. Itu minimal pesan publik yang saya tangkap.

Kalau sedulur semua punya pendapat yang lain, ndak masalah. Monggo, siap menyimak dan membaca.

#ceritapinggirjalan
#bersepedaselalu
#TahunBaruImlek2572
#isupublik

About the author

Pak Wali

Pak Wali

#bersepedaselalu

View all posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *