berikan panggungnya

Kalau Ada Yang Suka, Berikan Panggungnya

Kalau ada kelompok atau pribadi yang suka berdebat, berikan panggungnya. Kalau ada yang suka bertinju, berikan ring tinjunya.

Kalau ada yang suka balapan, berikan lintasannya. Kalau ada yang suka melanggar hukum, berikan peradilannya.

Kalau ada yang suka ilmu, berikan kesempatan pendidikan terbaiknya. Kalau ada yang suka agama, sediakan tempat ibadahnya.

Moderator, untuk perdebatan, wasit untuk memimpin tanding tinju, teknisi untuk balapan, hakim untuk pelanggar hukum, guru untuk pendidikan. Rohaniwan untuk agama.

Beragam atribusi yang bisa melekat pada diri seseorang kini semakin banyak ragam jenisnya. Artis untuk seniman, novelis untuk juru cerita dan lain lain. Seleb medsos, malah kini jadi profesi yang menghasilkan duit.

Masalahnya, kita ini, suka sibuk berdebat dan saling beradu kicauan begitu lamanya, narasinya belum berbeda jauh di medsos. Apalagi debat dan isi materi debat dan saling klaim soal yang itu-itu saja, yang sekedar mengolah rasa emosi, kebencian, intoleran, merasa yang paling sempurna dan sejenisnya.

Entah sampai kapan kita ini sibuk mencari cari kejelekan liyan dan keburukan kelompok lain dan seterusnya. Hampir tanpa henti, tanpa jeda. Hobinya menonton dan kalaupun bicara ngawur saja tanpa ada isi, asal saja tentu sungguh sia sia.

Kenapa model begini banyak yang suka? Entahlah, bisa jadi karena begitu banyaknya waktu luang di masa begini.

Di saat yang sama, warga negara lain di seberang benua ternyata sibuk dan sudah bekerja berproduksi aneka rupa. Ini nyata adanya.

Mau bukti nyata? Ada banyak komoditas sepele yang sampai sekarang kita ini sangat bergantung dan hobi menjadi konsumennya. Kala butuh, pilihan impor tentu solusinya. Repotnya, kala impor yang dipilih adalah impor masalah dari benua lain.

Di situasi chaos, situasi konflik berkepanjangan sejatinya ada keteraturan yang bisa dikenali. Apa itu? Fenomena keos dan konflik itu sendiri.

Hari-hari ini, bermunculan gunung es persoalan kebangsaan yang hadir silih berganti wujudnya, lokasinya dan peristiwanya.

Kebenaran meski dilakukan oleh sedikit orang, tetaplah kebenaran. Kebaikan yang dilakukan oleh sedikit orang tetaplah kebaikan. Begitu juga kebodohan yang dilakukan oleh sedikit orang tetaplah kebodohan.

Kesalahan yang dipahami tentu bisa memberikan pelajaran. Ini berlaku jika ada kemauan belajar. Berefleksi.

Budaya produksi keilmuan di setiap era butuh waktu untuk dipetik hasilnya. Pendidikan, edukasi, pembelajaran adalah proses panjang yang bisa terjadi sepanjang hayat.

Bagaimana menjadi manusia yang beradab, membangun peradaban lebih baik?

Simple. Mudah saja.

Tepung, Dunung, Srawung.

About the author

Pak Wali

Pak Wali

#bersepedaselalu

View all posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *